Kata Kerja Bentuk "~ masu"
Disebut demikian karena memang kata kerja ini berakhiran "masu". Kata kerja bentuk masu merupakan kata kerja bentuk sopan. Silakan simak beberapa list kata kerja bentuk masu beserta artinya:
Bentuk ~ masu Arti Bentuk ~ masu Arti
Kaerimasu
帰ります Pulang Nemasu
寝ます Tidur
Kaimasu
買います Membeli Okimasu
起きます Bangun
Kakimasu
書きます Menulis Tabemasu
食べます Makan
Nomimasu
飲みます Minum Kimasu
来ます Datang
Hatarakimasu
働きます Bekerja Shimasu
し ます Melakukan
Mimasu
見 ます Melihat Benkyoo shimasu
勉強します Belajar
Fungsi dari kata kerja masu:
A. Menunjukan Kebiasaan Yang Dilakukan
• Asa, okimasu.
朝、起きます。 Pagi-pagi bangun.
• Mainichi, hatarakimasu.
毎日、働きます。 Setiap hari bekerja.
• Maiban, benkyoo shimasu.
毎晩、勉強します。 Setiap malam belajar.
• Yoru, nemasu.
夜、寝ます。 Malam Tidur.
kata keterangan waktu seperti: asa (pagi), hiru (siang), yoru (malam), mainichi (setiap hari), maiasa (setiap pagi), maiban (setiap malam), itsumo (selalu), taitei (biasanya) dll biasanya digunakan untuk lebih menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan suatu kebiasaan.
B. Menunjukan Kegiatan Yang Akan Dilakukan
• Nichiyoobi, ikimasu.
日曜日、行きます。 Hari Minggu, (akan) pergi.
• Ashita, hatarakimasu.
明日、働きます。 Besok (akan) bekerja.
Untuk membuat kalimat tanya dari kata kerja, sama caranya dengan yang lain, yaitu dengan menambahkan partikel ka di akhir kalimat.
A: Ashita, ikimasu ka.
明日、行きますか。
B: Hai, ikimasu.
はい、行きます。 A: Apakah besok pergi?
B: Iya pergi.
A: Mainichi, hatarakimasu ka.
毎日、働きますか。
B: Hai, hatarakimasu.
はい、働きます。 A: Apakah setiap hari bekerja?
B: Iya, bekerja.
Kenapa subjeknya tidak ada?? Ya, bahasa Jepang memang jarang sekali menyertakan subjek kalimat apabila konteks percakapannya sudah diketahui oleh pembicara dan lawan bicara.
Kata Kerja Bentuk "~ masen"
Bagaimana membuat kalimat negatif dari kata kerja??? Sangat mudah!!! Untuk membuat kalimat negatif kamu tinggal mengganti akhiran "masu" dengan "masen".
Lihat list perubahan dari bentuk positif ke negatif:
Positif Negatif Arti
Hatarakimasu
働きます Hatarakimasen
働きません Bekerja
Kaerimasu
帰ります Kaerimasen
帰りません Pulang
Kaimasu
買います Kaimasen
買いません Membeli
Kakimasu
書きます Kakimasen
書きません Menulis
Nomimasu
飲みます Nomimasen
飲みません Minum
Mimasu
見ます Mimasen
見 ません Melihat
Nemasu
寝ます Nemasen
寝 ません Tidur
Okimasu
起きます Okimasen
起 きません Bangun
Tabemasu
食べます Tabemasen
食 べません Makan
Kimasu
来ます Kimasen
来ません Datang
Shimasu
し ます Shimasen
しません Melakukan
Benkyoo shimasu
勉強します Benkyoo shimasen
勉強しません Belajar
Contoh Kalimat:
• Ashita, hatarakimasen.
明日、働きません。 Besok tidak kerja
• Asa, tabemasen.
朝、食べません。 Pagi-pagi tidak makan.
A: Yoru, benkyoo shimasu ka.
夜、勉強しますか。
B: Iie, benkyoo shimasen.
いいえ、勉強しません。 A: Apakah malam belajar?
B: Tidak, tidak belajar.
Pada bagian ini kita akan belajar mengenai kata sifat bahasa Jepang. Kata sifat Bahasa Jepang diklasifikasikan menjadi 2 bagian, yaitu kata sifat i dan kata sifat na. Kata Sifat i adalah kata sifat yang berahiran i, sedangkan kata sifat na adalah kata sifat yang tidak berakhiran i.
A. Kata Sifat i Sebagai Predikat
Cara membuat kalimat sederhana dengan menggunakan kata sifat sangat mudah!!! Caranya sama dengan membuat kalimat dengan menggunakan kata benda sebagai predikat, yaitu “KB wa KS desu”. Untuk lebih jelas, silakan simak contoh berikut ini:
Contoh Kalimat:
• Atarashii desu.
新しいです。 Baru
• Kono kaban wa atarashii desu.
この鞄は新しいです。 Tas ini baru.
• Kono kaban wa atarashikunai desu.
この鞄は新しくないです。 Tas ini tidak baru
• Takai desu
高いです。 Mahal.
• Watashi no kuruma wa takai desu
私の車は高いです。 Mobil saya mahal.
• Watashi no kuruma wa takakunai desu
私の車は高くないです。 Mobil saya tidak mahal.
Hati-hati!!! Ada beberapa kata sifat yang berakhiran i, namun bukan termasuk kata sifat i. Kata sifat tersebut adalah: Kirei (cantik), kirai (benci) dan yuumei (terkenal).
Keterangan: Cara merubah kata sifat i ke bentuk negatif adalah dengan mengganti huruf i terakhir dengan kunai.
Perubahan Kata Sifat
Bentuk Positif Bentuk Negatif
Bagus Yoi
良い Yokunai
良くない
Baik Hati Yasashii
優しい Yasashikunai
優しくない
Baru Atarashii
新しい Atarashikunai
新しくない
Besar Ookii
大きい Ookikunai
大きくない
Dingin Samui
寒い Samukunai
寒くない
Enak Oishii
美味しい Oishikunai
美味しくない
Menarik Omoshiroi
面白い Omoshirokunai
面白くない
Panas Atsui
暑い Atsukunai
暑くない
Sibuk Isogashii
忙しい Isogashikunai
忙しくない
Sulit Muzukashii
難しい Muzukashikunai
難しくない
Tinggi / Mahal Takai
高い Takakunai
高くない
Bagaimana kalau ingin membuat kalimat pertanyaan dengan kalimat yang predikatnya kata sifat?? Mudah!! Sama seperti pelajaran sebelumnya, kamu tinggal tambahkan partikel "ka" di akhir kalimat
Contoh:
A: Kono kaban wa atarashii desu ka.
この鞄は新しいですか。
B: Hai, atarashii desu.
はい、新しいです。
Iie, atarashikunai desu.
いいえ、新しくないです。 Apakah tas ini baru?
Iya, baru.
Tidak, tidak baru.
A: Nihongo wa omoshiroi desu ka.
日本語は面白いですか。
B: Hai, omoshiroi desu.
はい、面白いです。
Iie, omoshirokunai desu.
いいえ、面白くないです。 Apakah bahasa Jepang menarik?
Iya, menarik.
Tidak, tidak menarik.
Kata Sifat i Sebagai Keterangan Kata Benda
Kalau pada materi sebelumnya kita belajar mengenai kata sifat yang berfungsi sebagai predikat, maka pada kesempatan kali ini kita akan belajar bagaimana membuat kalimat dengan menggunakan kata sifat sebagai keterangan kata benda. Untuk lebih jelas, silakan simak contoh berikut ini:
Contoh Kalimat:
• Atarashii desu.
新しいです。 Baru
• Atarashii kaban desu.
新しい鞄です。 Tas yang baru.
• Kore wa atarashii kaban desu.
これは新しい鞄です。 Ini tas yang baru.
• Kore wa atarashikunai kaban desu
これは新しくない鞄です。 Ini bukan tas yang baru
• Takai desu
高いです。 Mahal.
• Takai kuruma desu
高くない車です。 Mobil yang mahal.
• Kore wa takai kuruma desu.
これは高い車です。 Ini mobil yang mahal.
• Kore wa takakunai kuruma desu.
これは高くない車です。 Ini bukan mobil yang mahal
Contoh Kata Sifat i Pemberi Keterangan Kata Benda
Kaban (tas)
鞄 Yoi (bagus)
良い Yoi kaban
(tas yang bagus)
Hito (orang)
人 Yasashii (baik hati)
優 しい Yasashii hito
(orang yang baik hati)
Hon (buku)
本 Atarashii (baru)
新 しい Atarashii hon
(buku yang baru)
Uchi (rumah)
家 Ookii (besar)
お おきい Okii uchi
(rumah yang besar)
Tokoro (tempat)
所 Samui (dingin)
寒 い Samui tokoro
(tempat yang dingin)
Ryoori (makanan)
料理 Oishii (enak)
美 味しい Oishii ryoori
(makanan yang enak)
Eiga (film)
映画 Omoshiroi (menarik)
面 白い Omoshiroi eiga
(film yang menarik)
Shukudai (PR)
宿題 Muzukashii (sulit)
難 しい Muzukashii shukudai
(PR yang sulit)
Kata Kerja ~ mashita
Kalau pada materi sebelumnya kita membahas mengenai kata kerja bentuk sekarang dan akan datang, maka pada materi kali ini kita akan membahas mengenai kata kerja bentuk lampau. Bentuk lampau kata kerja dinyatakan dengan akhiran "mashita". Mari kita simak perubahan kata kerja berikut ini:
Bentuk Sekarang Bentuk Lampau Arti
Hatarakimasu
働きます Hatarakimashita
働きました Bekerja
Kaerimasu
帰ります Kaerimashita
帰りました Pulang
Kaimasu
買います Kaimashita
買いました Membeli
Kakimasu
書きます Kakimashita
書きました Menulis
Nomimasu
飲みます Nomimashita
飲みません Minum
Mimasu
見ます Mimashita
見 ました Melihat
Nemasu
寝ます Nemashita
寝 ました Tidur
Okimasu
起きます Okimashita
起 きました Bangun
Tabemasu
食べます Tabemashita
食 べました Makan
Kimasu
来ます Kimashita
来ました Datang
Shimasu
し ます Shimashita
しました Melakukan
Benkyoo shimasu
勉強します Benkyoo shimashita
勉強しました Belajar
Contoh Kalimat:
• Kyoo, hatarakimasu.
今日、働きます。 Hari ini bekerja.
→ Kinoo, hatarakimashita.
昨日、働きました。 Kemarin bekerja.
• Ashita, ikimasu.
明日、行きます。 Besok, pergi.
→ Kinoo, ikimashita.
昨日、行きました。 Kemarin, pergi.
• Maiban, benkyoo shimasu.
毎晩、勉強します。 Setiap malam belajar.
→ Yuube, benkyoo shimashita.
夕べ、勉強しました。 Semalam, belajar.
Yang perlu kalian perhatikan adalah kata keterangan waktunya, apakah lampau atau tidak. Berikut ini beberapa kata kerangan waktu yang biasanya digunakan untuk menyatakan kegiatan lampau:
Kinoo 昨日(Kemarin), Kesa 今朝(tadi pagi), Yuube 夕べ(tadi malam), Senshuu 先週(minggu lalu), Sengetsu 先月(bulan lalu), Kyonen 去年(tahun lalu), dll.
Kata Kerja ~ masen deshita
Untuk membuat kalimat negatif lampau, kamu tinggal mengganti "~ mashita" dengan "~ masen deshita".
Bentuk Lampau Positif Bentuk Lampau Negatif Arti
Hatarakimasu
働 きした Hatarakimasen deshita
働 きませんでした Bekerja
Kaerimashita
帰 りました Kaerimasen deshita
帰 りませんでした Pulang
Kaimashita
買 いました Kaimasen deshita
買 いませんでした Membeli
Kakimashita
書 きました Kakimasen deshita
書 きませんでした Menulis
Nomimashita
飲 みました Nomimasen deshita
飲 みませんでした Minum
Mimashita
見ました Mimasen deshita
見 ませんでした Melihat
Nemashita
寝ました Nemasen deshita
寝 ませんでした Tidur
Okimashita
起きました Okimasen deshita
起 きませんでした Bangun
Tabemashita
食べました Tabemasen deshita
食 べませんでした Makan
Kimashita
来ました Kimasen deshita
来ませんでした Datang
Shimashita
し ました Shimasen deshita
しませんでした Melakukan
Benkyoo shimashita
勉強しました Benkyoo shimasen deshita
勉強しませんでした Belajar
Contoh Kalimat:
• Kinoo, hatarakimashita.
昨日、働きました。 Kemarin bekerja.
→ Kinoo, hatarakimasen deshita.
昨日、働きませんでした。 Kemarin tidak bekerja.
• Kinoo, ikimashita.
昨日、行きました。 Kemarin, pergi.
→ Kinoo, ikimasen deshita.
昨日、行きませんでした。 Kemarin tidak pergi.
A: Yuube, benkyoo shimashita ka?
夕べ、勉強しましたか。
B: Iie, benkyoo shimasen deshita.
いいえ、勉強しませんでした。 A: Apakah semalam, belajar.
B: Tidak, tidak belajar.
Apa itu bentuk Stem? Bantuk stem adalah akar kata dari kata kerja. Untuk mengetahui akar dari kata kerja sungguh mudah!!! Anda hanya tinggal menghilangkan kata "masu" pada kata kerja tersebut.
Perhatikan perubahan berikut ini!!!
Kata Kerja 1
Aimasu
会 います Ai Bertemu
Machimasu
待 ちます Machi Menunggu
Kaerimasu
帰 ります Kaeri Pulang
Yomimasu
読 みます Yomi Membaca
Yobimasu
呼 びます Yobi Memanggil
Ikimasu
行 きます Iki Pergi
Oyogimasu
泳 ぎます Oyogi Berenang
Kata Kerja 2
Mimasu
見 ます Mi Nonton
Nemasu
寝 ます Ne Tidur
Oshiemasu
教 えます Oshie Mengajar
Tabemasu
食 べます Tabe Makan
Kata Kerja 3
Kimasu
来 ます Ki Datang
Shimasu
し ます Shi Melakukan
Kegunaan Bentuk Stem:
• Kalimat ajakan (KK stem + mashoo)
• Kalimat ajakan 2 (KK stem + masen ka)
• Menyatakan Keinginan Melakukan Sesuatu (KK stem + tai)
• Menawarkan Bantuan (KK stem + mashoo ka)
• Sambil ~, melakukan ~ (KK stem + nagara)
• Bentuk Perintah (KK stem + nasai)
Ajakan ~ mashoo (~ yuk)
Pada bagian ini kita akan belajar bagaimana membuat kalimat ajakan dalam bahasa Jepang. Ada 2 cara bagaimana membuat kalimat ajakan, yaitu:
• K.kerja (stem) + mashoo (~ yuk)
• K.kerja (stem) + masen ka (bagaimana kalau ~)
Perbedaan antara ke-2 bentuk tersebut terletak pada formalitas bahasa. Ajakan dengan menggunakan bentuk ~ masen ka dianggap lebih sopan dari bentuk ~ mashoo.
Oke, sekarang mari kita perhatikan bagaimana cara membuat bentuk ajakan dengan bentuk ~ mashoo.
Kata Kerja 1
Aimasu
会 います Bertemu Aimashoo
会 いましょう Ketemuan yuk
Hatarakimasu
働 きます Berkerja Hatarakimashoo
働 きましょう Bekerja yuk
Ikimasu
行 きます Pergi Ikimashoo
行 きましょう Pergi yuk
Kaerimasu
帰 ります Pulang Kaerimashoo
帰 りましょう Pulang yuk
Machimasu
待ちます Menunggu Machimashoo
待ちましょう Tunggu yuk
Oyogimasu
泳 ぎます Berenang Oyogimashoo
泳 ぎましょう Berenang yuk
Kata Kerja 2
Mimasu
見 ます Nonton Mimashoo
見 ましょう Nonton yuk
Nemasu
寝 ます Tidur Nemashoo
寝 ましょう Tidur yuk
Tabemasu
食 べます Makan Tabemashoo
食 べましょう Makan yuk
Kata Kerja 3
Kimasu
来 ます Datang Kimashoo
来 ましょう Datang yuk
Shimasu
し ます Melakukan Shimashoo
し ましょう Kerjakan yuk
Benkyoo shimasu
勉 強します Belajar Benkyoo shimashoo
勉 強しましょう Belajar yuk
Contoh Kalimat:
• Moo sukoshi machimashoo.
もう少し待ちましょう。 Tunggu sebentar lagi yuk
• Issho ni ikimashoo.
一緒に行きましょう。 Pergi bareng yuk
• Aruite kaerimashoo.
歩いて帰りましょう。 Pulang jalan kaki yuk
Kosakata:
♦ Moo sukoshi (もう少し): Sebentar lagi
♦ Issho ni (一緒に): Bersama-sama
♦ Aruite (歩いて): Berjalan kaki
Jumat, 07 Januari 2011
ungkapan hore dalam bahasa jepang
Yatta! (Berhasil!/Hore!)
Ungkapan ini digunakan sebagai ungkapan rasa senang atas keberhasilan yang dicapai.
Dialog:
A:
Sensei, shiken wa doo?
せんせい、しけんはどう? Sensei, ujiannya bagaimana?
B: Gookaku shimashita yo.
ごうかくしましたよ! Lulus lho.
A: Yatta!
やった! Hore!
Dialog (kanji)
A: 先生、試験はどう? Sensei, ujiannya bagaimana?
B: 合格しましたよ! Lulus lho.
A: やった! Hore!
Ungkapan ini digunakan sebagai ungkapan rasa senang atas keberhasilan yang dicapai.
Dialog:
A:
Sensei, shiken wa doo?
せんせい、しけんはどう? Sensei, ujiannya bagaimana?
B: Gookaku shimashita yo.
ごうかくしましたよ! Lulus lho.
A: Yatta!
やった! Hore!
Dialog (kanji)
A: 先生、試験はどう? Sensei, ujiannya bagaimana?
B: 合格しましたよ! Lulus lho.
A: やった! Hore!
fungsi partikel ka dalam bahasa jepang
Partikel "ka" (Apakah ~)
Partikel "ka" berfungsi untuk merubah kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan.
Pola Kalimat:
• Yamada san wa nihon-jin desu.
やまださんはにほんじんです。 Yamada orang Jepang.
• Yamada san wa nihon-jin desu ka.
やまださんはにほんじんですか。 Apakah Yamada orang Jepang?
• Jakaruta wa nigiyaka desu.
ジャカルタはにぎやかです。 Jakarta ramai.
• Jakaruta wa nigiyaka desu ka.
ジャカルタはにぎやかですか。 Apakah Jakarta ramai.
Contoh Kalimat:
• Kyoo wa yasumi desu ka.
きょうはやすみですか。 Apakah hari ini libur?
A: Ano hito wa daigakusei desu ka.
あのひとはだいがくせいですか。
B: Hai, soo desu / Iie, chigaimasu.
はい、そうです/いいえ、ちがいます。 Apakah orang itu mahasiswa?
Iya, begitu / Bukan.
A: Ashita wa hatarakimasu ka.
あしたははたらきますか。
B: Hai, hatarakimasu./Iie, hatarakimasen.
はい、はたらきます/いいえ、はたらきません。 Apakah besok bekerja?
Iya, bekerja./Tidak, tidak bekerja.
Partikel "ka" berfungsi untuk merubah kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan.
Pola Kalimat:
• Yamada san wa nihon-jin desu.
やまださんはにほんじんです。 Yamada orang Jepang.
• Yamada san wa nihon-jin desu ka.
やまださんはにほんじんですか。 Apakah Yamada orang Jepang?
• Jakaruta wa nigiyaka desu.
ジャカルタはにぎやかです。 Jakarta ramai.
• Jakaruta wa nigiyaka desu ka.
ジャカルタはにぎやかですか。 Apakah Jakarta ramai.
Contoh Kalimat:
• Kyoo wa yasumi desu ka.
きょうはやすみですか。 Apakah hari ini libur?
A: Ano hito wa daigakusei desu ka.
あのひとはだいがくせいですか。
B: Hai, soo desu / Iie, chigaimasu.
はい、そうです/いいえ、ちがいます。 Apakah orang itu mahasiswa?
Iya, begitu / Bukan.
A: Ashita wa hatarakimasu ka.
あしたははたらきますか。
B: Hai, hatarakimasu./Iie, hatarakimasen.
はい、はたらきます/いいえ、はたらきません。 Apakah besok bekerja?
Iya, bekerja./Tidak, tidak bekerja.
Fungsi Partikel No dalam Bahasa Jepang
Ari lagi suka belajar bahasa Jepang lagi (untuk menghilangkan virus JGS hikhikhik), baca-baca dari link yang diinfokan milis tadotsugakuendi sini, lagi yang ari pelajari saat ini tentang partikel no, dan pembahasan yang ari dapat seperti dibawah ini, jangan lupa berkunjung ke sumber blog langsung disini
Partikel no yang akan kita bicarakan di bawah ini termasuk ke dalam kelas Kakujoshi.
a. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua buah nomina. Nomina yang ada sebelum partikel no menjadi kata keterangan bagi nomina yang ada setelah partikel no.
1) Tsukue no ue ni kaban ga aru. [Di atas meja ada tas.]
2) Heya no naka ni dare ka imasu ka? [Di dalam ruangan ada siapa?]
3) Eki no chikaku ni depaato ga arimasu. [Di dekat stasiun ada department store.]
4) Sore wa Wijoyo-san no hon desu. [Itu adalah buku milik Wijoyo-san.]
5) Tanaka-san wa anata no tomodachi desu ka? [Apakah Tanaka-san teman anda?]
6) Watashi no tanjoubi wa rokugatsu itsuka desu. [Ulang Tahun saya tanggal 5 Juni.]
7) Koko wa Nihongo no senmon gakkou desu. [Di sini adalah sekolah jurusan Bahasa Jepang.*]
8) Otoko no ko mo onna no ko mo oozei imasu. [Anak laki-laki dan anak perempuan pun banyak.]
9) Kouen ni wa bara no hana ga saite imasu. [Di taman, Bunga Mawar bermekaran.]
10) Senshuu no doyoubi ni Jakaruta e ikimashita. [Sabtu minggu lalu,saya pergi ke Jakarta.]
11) Kyou no jugyou wa nan ji kara nan ji made desu ka? [Pelajaran hari ini dari jam berapa sampai jam berapa?]
12) Watashi wa kyonen no juugatsu ni Nihon e kimashita. [Saya pada bulan Oktober tahun lalu tiba di Jepang.]
b. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua bagian kalimat. Bagian kalimat yang ada sebelum partikel no menjadi keterangan bagi bagian kalimat yang ada setelah partikel no. Fungsi partikel no ini hampir sama dengan fungsi partikel no pada bagian a. Namun, partikel no pada bagian b ini dalam pemakaiannya bisa diganti dengan partikel ga.
1) Uta no jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
>> Uta ga jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
[Orang yang pandai bernyanyi itu adalah Yokoyama-san. ]
2) Watashi no ikitai kuni wa Amerika desu.
>> Watashi ga ikitai kuni wa Amerika desu.
[Negara yang ingin saya kunjungi adalah Amerika.]
c. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan perbandingan seperti pada kalimat-kalimat berikut:
1) Jakaruta no hou ga Bandung yori ookii desu. [Dibanding Bandung, Jakarta lebih besar.]
2) Kanji no hou ga hiragana yori muzukashii. [Dibanding Hiragana, Kanji lebih sulit.]
3) Amir-san no hou ga Ali-san yori Nihongo ga jouzu desu.
d. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan contoh atau perumpamaan seperti pada contoh kalimat-kalimat berikut.
1)* Kodomo no you ni nakimashita. [Mulai menangis seperti anak kecil.]
2) Nihonjin no you ni Nihongo o hanashimasu.[Berbicara seperti orang Jepang.]
e. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan sebab-sebab, alasan atau tujuan dilakukannya/terjadinya sesuatu.
1) Byouki no tame ni kaisha e ikemasen deshita. [Karena sakit Saya tidak bisa pergi ke kantor.]
2) Eigo no benkyou no tame ni gakkou e ikimashita. [Saya pergi ke sekolah untuk belajar Bahasa Inggris.]
f. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan benda atau barang yang dimiliki.
1) Kono kamera wa Amir-san no desu. [Kamera ini milik Amir-san.]
2) Kore wa anata no desu ka? [Apakah ini milik anda?]
g. Partikel no dapat dipakai untuk menggantikan orang atau benda.
1) Jakaruta e iku no wa Amir-san dake desu. [Yang pergi ke Jakarta cuma Amir-san saja.]
2) Takai no mo yasui no mo arimasu. [Yang mahal ada, yang murah pun ada.]
h. Partikel no dapat dipakai untuk mengubah verba menjadi nomina.
1) Kanji o yomu no wa muzukashii. [Membaca kanji susah.]
2) Kaeru no wa itsu desu ka?
Untuk kasus 'koto dan 'no' yang hampir mirip maknanya itu misalnya..
Watashi ga anata wo aishiteru koto wa Kamisama ga shitte iru.
Watashi ga anata wo aishiteru no wa Kamisama ga shitte iru.
>> Tuhan tahu ku cinta kau
*mirip lagunya BCL yes..
Selain sebagai kakujoshi, partikel no dipakai juga sebagai shuujoshi.
Shuujoshi dipakai pada akhir kalimat atau pada akhir bagian-bagian kalimat (bunsetsu) untuk menyatakan perasaan pembicara seperti rasa haru, larangan dan sebagainya (Tadasu, 1989: 143-144).
Shuujoshi ialah partikel-partikel yang dipakai pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan pertanyaan, rasa heran, keragu-raguan, harapan atau rasa haru pembicara seperti partikel ka, na, ne dan sebagainya. [Bunkachou, 1978: 29]. Partikel yang termasuk shuujoshi yang sering dipakai dalam pemakaian Bahasa Jepang sehari-hari yakni partikel-partikel ka, kashira, kke, na/naa, ne/nee, no, sa, tomo, wa ya, yo, ze dan zo.
Dalam dua defenisi yang telah dikemukakan di atas disebutkan bahwa shuujoshi di antaranya dipakai untuk menyatakan suatu perasaan [kandou] yang dirasakan pembicara pada waktu mengucapkannya. Fungsi shuujoshi seperti ini dimiliki juga oleh kelas kata interjeksi [kandoushi]. Sehingga ada juga yang menyebut shuujoshi ini dengan istilah kandoujoshi.
Partikel no yang termasuk shuujoshi dipakai pada akhir kalimat untuk menyatakan hal-hal sebagai berikut.
a. Partikel no dipakai untuk menyatakan keputusan atau ketegasan pembicara.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no. [Dia sangat ramah lho.]*
2) Mou ii no. [Sudahlah.]
3) Iie, chigau no. [Tidak, bukan begitu.]*
Partikel no pada kalimat di atas, dalam ragam bahasa wanita dapat ditambah partikel yo sehingga menjadi no yo.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no yo.
2) Mou ii no yo.
3) Iie, chigau no yo.
b. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan kalimat tanya.
1) Doushita no? [Ada apa??]
2) Doushite tabenai no? [Kenapa tidak makan?]
3) Nani o shiteru no? [Sedang melakukan apa?]
-
Sumber:
Gramatika Bahasa Jepang Modern
Seri B
Sudjianto
Kesaint Blanc, 2000
Ari lagi suka belajar bahasa Jepang lagi (untuk menghilangkan virus JGS hikhikhik), baca-baca dari link yang diinfokan milis tadotsugakuendi sini, lagi yang ari pelajari saat ini tentang partikel no, dan pembahasan yang ari dapat seperti dibawah ini, jangan lupa berkunjung ke sumber blog langsung disini
Partikel no yang akan kita bicarakan di bawah ini termasuk ke dalam kelas Kakujoshi.
a. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua buah nomina. Nomina yang ada sebelum partikel no menjadi kata keterangan bagi nomina yang ada setelah partikel no.
1) Tsukue no ue ni kaban ga aru. [Di atas meja ada tas.]
2) Heya no naka ni dare ka imasu ka? [Di dalam ruangan ada siapa?]
3) Eki no chikaku ni depaato ga arimasu. [Di dekat stasiun ada department store.]
4) Sore wa Wijoyo-san no hon desu. [Itu adalah buku milik Wijoyo-san.]
5) Tanaka-san wa anata no tomodachi desu ka? [Apakah Tanaka-san teman anda?]
6) Watashi no tanjoubi wa rokugatsu itsuka desu. [Ulang Tahun saya tanggal 5 Juni.]
7) Koko wa Nihongo no senmon gakkou desu. [Di sini adalah sekolah jurusan Bahasa Jepang.*]
8) Otoko no ko mo onna no ko mo oozei imasu. [Anak laki-laki dan anak perempuan pun banyak.]
9) Kouen ni wa bara no hana ga saite imasu. [Di taman, Bunga Mawar bermekaran.]
10) Senshuu no doyoubi ni Jakaruta e ikimashita. [Sabtu minggu lalu,saya pergi ke Jakarta.]
11) Kyou no jugyou wa nan ji kara nan ji made desu ka? [Pelajaran hari ini dari jam berapa sampai jam berapa?]
12) Watashi wa kyonen no juugatsu ni Nihon e kimashita. [Saya pada bulan Oktober tahun lalu tiba di Jepang.]
b. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua bagian kalimat. Bagian kalimat yang ada sebelum partikel no menjadi keterangan bagi bagian kalimat yang ada setelah partikel no. Fungsi partikel no ini hampir sama dengan fungsi partikel no pada bagian a. Namun, partikel no pada bagian b ini dalam pemakaiannya bisa diganti dengan partikel ga.
1) Uta no jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
>> Uta ga jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
[Orang yang pandai bernyanyi itu adalah Yokoyama-san. ]
2) Watashi no ikitai kuni wa Amerika desu.
>> Watashi ga ikitai kuni wa Amerika desu.
[Negara yang ingin saya kunjungi adalah Amerika.]
c. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan perbandingan seperti pada kalimat-kalimat berikut:
1) Jakaruta no hou ga Bandung yori ookii desu. [Dibanding Bandung, Jakarta lebih besar.]
2) Kanji no hou ga hiragana yori muzukashii. [Dibanding Hiragana, Kanji lebih sulit.]
3) Amir-san no hou ga Ali-san yori Nihongo ga jouzu desu.
d. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan contoh atau perumpamaan seperti pada contoh kalimat-kalimat berikut.
1)* Kodomo no you ni nakimashita. [Mulai menangis seperti anak kecil.]
2) Nihonjin no you ni Nihongo o hanashimasu.[Berbicara seperti orang Jepang.]
e. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan sebab-sebab, alasan atau tujuan dilakukannya/terjadinya sesuatu.
1) Byouki no tame ni kaisha e ikemasen deshita. [Karena sakit Saya tidak bisa pergi ke kantor.]
2) Eigo no benkyou no tame ni gakkou e ikimashita. [Saya pergi ke sekolah untuk belajar Bahasa Inggris.]
f. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan benda atau barang yang dimiliki.
1) Kono kamera wa Amir-san no desu. [Kamera ini milik Amir-san.]
2) Kore wa anata no desu ka? [Apakah ini milik anda?]
g. Partikel no dapat dipakai untuk menggantikan orang atau benda.
1) Jakaruta e iku no wa Amir-san dake desu. [Yang pergi ke Jakarta cuma Amir-san saja.]
2) Takai no mo yasui no mo arimasu. [Yang mahal ada, yang murah pun ada.]
h. Partikel no dapat dipakai untuk mengubah verba menjadi nomina.
1) Kanji o yomu no wa muzukashii. [Membaca kanji susah.]
2) Kaeru no wa itsu desu ka?
Untuk kasus 'koto dan 'no' yang hampir mirip maknanya itu misalnya..
Watashi ga anata wo aishiteru koto wa Kamisama ga shitte iru.
Watashi ga anata wo aishiteru no wa Kamisama ga shitte iru.
>> Tuhan tahu ku cinta kau
*mirip lagunya BCL yes..
Selain sebagai kakujoshi, partikel no dipakai juga sebagai shuujoshi.
Shuujoshi dipakai pada akhir kalimat atau pada akhir bagian-bagian kalimat (bunsetsu) untuk menyatakan perasaan pembicara seperti rasa haru, larangan dan sebagainya (Tadasu, 1989: 143-144).
Shuujoshi ialah partikel-partikel yang dipakai pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan pertanyaan, rasa heran, keragu-raguan, harapan atau rasa haru pembicara seperti partikel ka, na, ne dan sebagainya. [Bunkachou, 1978: 29]. Partikel yang termasuk shuujoshi yang sering dipakai dalam pemakaian Bahasa Jepang sehari-hari yakni partikel-partikel ka, kashira, kke, na/naa, ne/nee, no, sa, tomo, wa ya, yo, ze dan zo.
Dalam dua defenisi yang telah dikemukakan di atas disebutkan bahwa shuujoshi di antaranya dipakai untuk menyatakan suatu perasaan [kandou] yang dirasakan pembicara pada waktu mengucapkannya. Fungsi shuujoshi seperti ini dimiliki juga oleh kelas kata interjeksi [kandoushi]. Sehingga ada juga yang menyebut shuujoshi ini dengan istilah kandoujoshi.
Partikel no yang termasuk shuujoshi dipakai pada akhir kalimat untuk menyatakan hal-hal sebagai berikut.
a. Partikel no dipakai untuk menyatakan keputusan atau ketegasan pembicara.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no. [Dia sangat ramah lho.]*
2) Mou ii no. [Sudahlah.]
3) Iie, chigau no. [Tidak, bukan begitu.]*
Partikel no pada kalimat di atas, dalam ragam bahasa wanita dapat ditambah partikel yo sehingga menjadi no yo.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no yo.
2) Mou ii no yo.
3) Iie, chigau no yo.
b. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan kalimat tanya.
1) Doushita no? [Ada apa??]
2) Doushite tabenai no? [Kenapa tidak makan?]
3) Nani o shiteru no? [Sedang melakukan apa?]
-
Sumber:
Gramatika Bahasa Jepang Modern
Seri B
Sudjianto
Kesaint Blanc, 2000
Fungsi Partikel No dalam Bahasa Jepang
Ari lagi suka belajar bahasa Jepang lagi (untuk menghilangkan virus JGS hikhikhik), baca-baca dari link yang diinfokan milis tadotsugakuendi sini, lagi yang ari pelajari saat ini tentang partikel no, dan pembahasan yang ari dapat seperti dibawah ini, jangan lupa berkunjung ke sumber blog langsung disini
Partikel no yang akan kita bicarakan di bawah ini termasuk ke dalam kelas Kakujoshi.
a. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua buah nomina. Nomina yang ada sebelum partikel no menjadi kata keterangan bagi nomina yang ada setelah partikel no.
1) Tsukue no ue ni kaban ga aru. [Di atas meja ada tas.]
2) Heya no naka ni dare ka imasu ka? [Di dalam ruangan ada siapa?]
3) Eki no chikaku ni depaato ga arimasu. [Di dekat stasiun ada department store.]
4) Sore wa Wijoyo-san no hon desu. [Itu adalah buku milik Wijoyo-san.]
5) Tanaka-san wa anata no tomodachi desu ka? [Apakah Tanaka-san teman anda?]
6) Watashi no tanjoubi wa rokugatsu itsuka desu. [Ulang Tahun saya tanggal 5 Juni.]
7) Koko wa Nihongo no senmon gakkou desu. [Di sini adalah sekolah jurusan Bahasa Jepang.*]
8) Otoko no ko mo onna no ko mo oozei imasu. [Anak laki-laki dan anak perempuan pun banyak.]
9) Kouen ni wa bara no hana ga saite imasu. [Di taman, Bunga Mawar bermekaran.]
10) Senshuu no doyoubi ni Jakaruta e ikimashita. [Sabtu minggu lalu,saya pergi ke Jakarta.]
11) Kyou no jugyou wa nan ji kara nan ji made desu ka? [Pelajaran hari ini dari jam berapa sampai jam berapa?]
12) Watashi wa kyonen no juugatsu ni Nihon e kimashita. [Saya pada bulan Oktober tahun lalu tiba di Jepang.]
b. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua bagian kalimat. Bagian kalimat yang ada sebelum partikel no menjadi keterangan bagi bagian kalimat yang ada setelah partikel no. Fungsi partikel no ini hampir sama dengan fungsi partikel no pada bagian a. Namun, partikel no pada bagian b ini dalam pemakaiannya bisa diganti dengan partikel ga.
1) Uta no jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
>> Uta ga jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
[Orang yang pandai bernyanyi itu adalah Yokoyama-san. ]
2) Watashi no ikitai kuni wa Amerika desu.
>> Watashi ga ikitai kuni wa Amerika desu.
[Negara yang ingin saya kunjungi adalah Amerika.]
c. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan perbandingan seperti pada kalimat-kalimat berikut:
1) Jakaruta no hou ga Bandung yori ookii desu. [Dibanding Bandung, Jakarta lebih besar.]
2) Kanji no hou ga hiragana yori muzukashii. [Dibanding Hiragana, Kanji lebih sulit.]
3) Amir-san no hou ga Ali-san yori Nihongo ga jouzu desu.
d. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan contoh atau perumpamaan seperti pada contoh kalimat-kalimat berikut.
1)* Kodomo no you ni nakimashita. [Mulai menangis seperti anak kecil.]
2) Nihonjin no you ni Nihongo o hanashimasu.[Berbicara seperti orang Jepang.]
e. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan sebab-sebab, alasan atau tujuan dilakukannya/terjadinya sesuatu.
1) Byouki no tame ni kaisha e ikemasen deshita. [Karena sakit Saya tidak bisa pergi ke kantor.]
2) Eigo no benkyou no tame ni gakkou e ikimashita. [Saya pergi ke sekolah untuk belajar Bahasa Inggris.]
f. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan benda atau barang yang dimiliki.
1) Kono kamera wa Amir-san no desu. [Kamera ini milik Amir-san.]
2) Kore wa anata no desu ka? [Apakah ini milik anda?]
g. Partikel no dapat dipakai untuk menggantikan orang atau benda.
1) Jakaruta e iku no wa Amir-san dake desu. [Yang pergi ke Jakarta cuma Amir-san saja.]
2) Takai no mo yasui no mo arimasu. [Yang mahal ada, yang murah pun ada.]
h. Partikel no dapat dipakai untuk mengubah verba menjadi nomina.
1) Kanji o yomu no wa muzukashii. [Membaca kanji susah.]
2) Kaeru no wa itsu desu ka?
Untuk kasus 'koto dan 'no' yang hampir mirip maknanya itu misalnya..
Watashi ga anata wo aishiteru koto wa Kamisama ga shitte iru.
Watashi ga anata wo aishiteru no wa Kamisama ga shitte iru.
>> Tuhan tahu ku cinta kau
*mirip lagunya BCL yes..
Selain sebagai kakujoshi, partikel no dipakai juga sebagai shuujoshi.
Shuujoshi dipakai pada akhir kalimat atau pada akhir bagian-bagian kalimat (bunsetsu) untuk menyatakan perasaan pembicara seperti rasa haru, larangan dan sebagainya (Tadasu, 1989: 143-144).
Shuujoshi ialah partikel-partikel yang dipakai pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan pertanyaan, rasa heran, keragu-raguan, harapan atau rasa haru pembicara seperti partikel ka, na, ne dan sebagainya. [Bunkachou, 1978: 29]. Partikel yang termasuk shuujoshi yang sering dipakai dalam pemakaian Bahasa Jepang sehari-hari yakni partikel-partikel ka, kashira, kke, na/naa, ne/nee, no, sa, tomo, wa ya, yo, ze dan zo.
Dalam dua defenisi yang telah dikemukakan di atas disebutkan bahwa shuujoshi di antaranya dipakai untuk menyatakan suatu perasaan [kandou] yang dirasakan pembicara pada waktu mengucapkannya. Fungsi shuujoshi seperti ini dimiliki juga oleh kelas kata interjeksi [kandoushi]. Sehingga ada juga yang menyebut shuujoshi ini dengan istilah kandoujoshi.
Partikel no yang termasuk shuujoshi dipakai pada akhir kalimat untuk menyatakan hal-hal sebagai berikut.
a. Partikel no dipakai untuk menyatakan keputusan atau ketegasan pembicara.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no. [Dia sangat ramah lho.]*
2) Mou ii no. [Sudahlah.]
3) Iie, chigau no. [Tidak, bukan begitu.]*
Partikel no pada kalimat di atas, dalam ragam bahasa wanita dapat ditambah partikel yo sehingga menjadi no yo.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no yo.
2) Mou ii no yo.
3) Iie, chigau no yo.
b. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan kalimat tanya.
1) Doushita no? [Ada apa??]
2) Doushite tabenai no? [Kenapa tidak makan?]
3) Nani o shiteru no? [Sedang melakukan apa?]
-
Sumber:
Gramatika Bahasa Jepang Modern
Seri B
Sudjianto
Kesaint Blanc, 2000
Ari lagi suka belajar bahasa Jepang lagi (untuk menghilangkan virus JGS hikhikhik), baca-baca dari link yang diinfokan milis tadotsugakuendi sini, lagi yang ari pelajari saat ini tentang partikel no, dan pembahasan yang ari dapat seperti dibawah ini, jangan lupa berkunjung ke sumber blog langsung disini
Partikel no yang akan kita bicarakan di bawah ini termasuk ke dalam kelas Kakujoshi.
a. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua buah nomina. Nomina yang ada sebelum partikel no menjadi kata keterangan bagi nomina yang ada setelah partikel no.
1) Tsukue no ue ni kaban ga aru. [Di atas meja ada tas.]
2) Heya no naka ni dare ka imasu ka? [Di dalam ruangan ada siapa?]
3) Eki no chikaku ni depaato ga arimasu. [Di dekat stasiun ada department store.]
4) Sore wa Wijoyo-san no hon desu. [Itu adalah buku milik Wijoyo-san.]
5) Tanaka-san wa anata no tomodachi desu ka? [Apakah Tanaka-san teman anda?]
6) Watashi no tanjoubi wa rokugatsu itsuka desu. [Ulang Tahun saya tanggal 5 Juni.]
7) Koko wa Nihongo no senmon gakkou desu. [Di sini adalah sekolah jurusan Bahasa Jepang.*]
8) Otoko no ko mo onna no ko mo oozei imasu. [Anak laki-laki dan anak perempuan pun banyak.]
9) Kouen ni wa bara no hana ga saite imasu. [Di taman, Bunga Mawar bermekaran.]
10) Senshuu no doyoubi ni Jakaruta e ikimashita. [Sabtu minggu lalu,saya pergi ke Jakarta.]
11) Kyou no jugyou wa nan ji kara nan ji made desu ka? [Pelajaran hari ini dari jam berapa sampai jam berapa?]
12) Watashi wa kyonen no juugatsu ni Nihon e kimashita. [Saya pada bulan Oktober tahun lalu tiba di Jepang.]
b. Partikel no dapat dipakai untuk menggabungkan dua bagian kalimat. Bagian kalimat yang ada sebelum partikel no menjadi keterangan bagi bagian kalimat yang ada setelah partikel no. Fungsi partikel no ini hampir sama dengan fungsi partikel no pada bagian a. Namun, partikel no pada bagian b ini dalam pemakaiannya bisa diganti dengan partikel ga.
1) Uta no jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
>> Uta ga jouzu na hito wa Yokoyama-san desu.
[Orang yang pandai bernyanyi itu adalah Yokoyama-san. ]
2) Watashi no ikitai kuni wa Amerika desu.
>> Watashi ga ikitai kuni wa Amerika desu.
[Negara yang ingin saya kunjungi adalah Amerika.]
c. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan perbandingan seperti pada kalimat-kalimat berikut:
1) Jakaruta no hou ga Bandung yori ookii desu. [Dibanding Bandung, Jakarta lebih besar.]
2) Kanji no hou ga hiragana yori muzukashii. [Dibanding Hiragana, Kanji lebih sulit.]
3) Amir-san no hou ga Ali-san yori Nihongo ga jouzu desu.
d. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan contoh atau perumpamaan seperti pada contoh kalimat-kalimat berikut.
1)* Kodomo no you ni nakimashita. [Mulai menangis seperti anak kecil.]
2) Nihonjin no you ni Nihongo o hanashimasu.[Berbicara seperti orang Jepang.]
e. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan sebab-sebab, alasan atau tujuan dilakukannya/terjadinya sesuatu.
1) Byouki no tame ni kaisha e ikemasen deshita. [Karena sakit Saya tidak bisa pergi ke kantor.]
2) Eigo no benkyou no tame ni gakkou e ikimashita. [Saya pergi ke sekolah untuk belajar Bahasa Inggris.]
f. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan benda atau barang yang dimiliki.
1) Kono kamera wa Amir-san no desu. [Kamera ini milik Amir-san.]
2) Kore wa anata no desu ka? [Apakah ini milik anda?]
g. Partikel no dapat dipakai untuk menggantikan orang atau benda.
1) Jakaruta e iku no wa Amir-san dake desu. [Yang pergi ke Jakarta cuma Amir-san saja.]
2) Takai no mo yasui no mo arimasu. [Yang mahal ada, yang murah pun ada.]
h. Partikel no dapat dipakai untuk mengubah verba menjadi nomina.
1) Kanji o yomu no wa muzukashii. [Membaca kanji susah.]
2) Kaeru no wa itsu desu ka?
Untuk kasus 'koto dan 'no' yang hampir mirip maknanya itu misalnya..
Watashi ga anata wo aishiteru koto wa Kamisama ga shitte iru.
Watashi ga anata wo aishiteru no wa Kamisama ga shitte iru.
>> Tuhan tahu ku cinta kau
*mirip lagunya BCL yes..
Selain sebagai kakujoshi, partikel no dipakai juga sebagai shuujoshi.
Shuujoshi dipakai pada akhir kalimat atau pada akhir bagian-bagian kalimat (bunsetsu) untuk menyatakan perasaan pembicara seperti rasa haru, larangan dan sebagainya (Tadasu, 1989: 143-144).
Shuujoshi ialah partikel-partikel yang dipakai pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan pertanyaan, rasa heran, keragu-raguan, harapan atau rasa haru pembicara seperti partikel ka, na, ne dan sebagainya. [Bunkachou, 1978: 29]. Partikel yang termasuk shuujoshi yang sering dipakai dalam pemakaian Bahasa Jepang sehari-hari yakni partikel-partikel ka, kashira, kke, na/naa, ne/nee, no, sa, tomo, wa ya, yo, ze dan zo.
Dalam dua defenisi yang telah dikemukakan di atas disebutkan bahwa shuujoshi di antaranya dipakai untuk menyatakan suatu perasaan [kandou] yang dirasakan pembicara pada waktu mengucapkannya. Fungsi shuujoshi seperti ini dimiliki juga oleh kelas kata interjeksi [kandoushi]. Sehingga ada juga yang menyebut shuujoshi ini dengan istilah kandoujoshi.
Partikel no yang termasuk shuujoshi dipakai pada akhir kalimat untuk menyatakan hal-hal sebagai berikut.
a. Partikel no dipakai untuk menyatakan keputusan atau ketegasan pembicara.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no. [Dia sangat ramah lho.]*
2) Mou ii no. [Sudahlah.]
3) Iie, chigau no. [Tidak, bukan begitu.]*
Partikel no pada kalimat di atas, dalam ragam bahasa wanita dapat ditambah partikel yo sehingga menjadi no yo.
1) Kare wa totemo shinsetsu na no yo.
2) Mou ii no yo.
3) Iie, chigau no yo.
b. Partikel no dapat dipakai untuk menyatakan kalimat tanya.
1) Doushita no? [Ada apa??]
2) Doushite tabenai no? [Kenapa tidak makan?]
3) Nani o shiteru no? [Sedang melakukan apa?]
-
Sumber:
Gramatika Bahasa Jepang Modern
Seri B
Sudjianto
Kesaint Blanc, 2000
Jumat, 03 Desember 2010
indikaTOr bahagia didunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketiga, Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Keempat, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Ketujuh, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat' , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketiga, Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Keempat, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Ketujuh, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat' , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
hadist pilihan
Laki-laki memberi salam kepada wanita dan wanita jangan memberi salam kepada laki-laki. (HR. Adainuri)
Senyummu ke wajah saudaramu adalah sodaqoh. (HR. Mashabih Assunnah)
Apabila berkumpul tiga orang janganlah yang dua orang berbisik-bisik (bicara rahasia) dan meninggalkan orang yang ketiga. (HR. Al Bukhari)
Apabila seorang bertamu lalu minta ijin (mengetuk pintu atau memanggil-manggil) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak dibukakan pintu) maka hendaklah ia pulang. (HR. Al Bukhari)
Seorang tamu yang masuk ke rumah suatu kaum hendaklah duduk di tempat yang ditunjuk kaum itu sebab mereka lebih mengenal tempat-tempat aurat rumah mereka. (HR. Athabrani)
Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk. (HR. Al Hakim)
Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)
Sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai kelestarian atas keakraban kawan lama, maka peliharalah kelangsungannya. (HR. Adailami)
Seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya dari yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. (HR. Ahmad dan Attimidzi)
Amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkah kesenangan ke dalam hati seorang muslim. (HR. Athabrani)
Jibril Alaihissalam yang aku cintai menyuruhku agar selalu bersikap lunak (toleran dan mengalah) terhadap orang lain. (HR. Ar-Rabii')
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusak (kehormatan dan nama baiknya). (HR. Muslim)
Janganlah kamu duduk-duduk di tepian jalan. Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, kami memerlukan duduk-duduk untuk berbincang-bincang". Rasulullah kemudian berkata, "Kalau memang harus duduk-duduk maka berilah jalanan haknya." Mereka bertanya, "Apa haknya jalanan itu ya Rasulullah?" Nabi saw menjawab, "memalingkan pandangan (bila wanita lewat), menghindari gangguan, menjawab ucapan salam (dari orang yang lewat), dan beramar ma'ruf nahi mungkar." (Mutafaq'alaih)
Termasuk sunnah bila kamu menghantar pulang tamu sampai ke pintu rumahmu. (HR. Al Baihaqi)
Rasulullah saw. menerima pemberian hadiah dan mendoakan ganjaran atas pemberian hadiah tersebut. (HR. Al-Bukhari)
Jangan menolak hadiah dan jangan memukul kaum muslimin. (HR. Ahmad)
Hendaklah kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian. (HR. Attirmidzi dan Ahmad)
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamu. Kewajiban menjamu tamu hanya satu hari satu malam. Masa bertamu adalah tiga hari dan sesudah tiu termasuk sedekah. Tidak halal bagi si tamu tinggal lebih lama sehingga menyulitkan tuan rumah. (HR. Al Baihaqi)
Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan. (HR. Muslim)
Wahai segenap manusia, sesungguhnya Rabbmu satu dan bapakmu satu. Tidak ada kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi seorang yang bukan Arab atas orang Arab dan yang berkulit merah atas yang berkulit hitam dan yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaannya. Apakah aku sudah menyampaikan hal ini? (HR. Ahmad)
Tidak akan masuk surga orang yang suka mencuri berita (suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain). (HR. Al Bukhari)
Kawan pendamping yang shaleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya. (HR. Al Bukhari)
Senyummu ke wajah saudaramu adalah sodaqoh. (HR. Mashabih Assunnah)
Apabila berkumpul tiga orang janganlah yang dua orang berbisik-bisik (bicara rahasia) dan meninggalkan orang yang ketiga. (HR. Al Bukhari)
Apabila seorang bertamu lalu minta ijin (mengetuk pintu atau memanggil-manggil) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak dibukakan pintu) maka hendaklah ia pulang. (HR. Al Bukhari)
Seorang tamu yang masuk ke rumah suatu kaum hendaklah duduk di tempat yang ditunjuk kaum itu sebab mereka lebih mengenal tempat-tempat aurat rumah mereka. (HR. Athabrani)
Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk. (HR. Al Hakim)
Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)
Sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai kelestarian atas keakraban kawan lama, maka peliharalah kelangsungannya. (HR. Adailami)
Seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya dari yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. (HR. Ahmad dan Attimidzi)
Amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkah kesenangan ke dalam hati seorang muslim. (HR. Athabrani)
Jibril Alaihissalam yang aku cintai menyuruhku agar selalu bersikap lunak (toleran dan mengalah) terhadap orang lain. (HR. Ar-Rabii')
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusak (kehormatan dan nama baiknya). (HR. Muslim)
Janganlah kamu duduk-duduk di tepian jalan. Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, kami memerlukan duduk-duduk untuk berbincang-bincang". Rasulullah kemudian berkata, "Kalau memang harus duduk-duduk maka berilah jalanan haknya." Mereka bertanya, "Apa haknya jalanan itu ya Rasulullah?" Nabi saw menjawab, "memalingkan pandangan (bila wanita lewat), menghindari gangguan, menjawab ucapan salam (dari orang yang lewat), dan beramar ma'ruf nahi mungkar." (Mutafaq'alaih)
Termasuk sunnah bila kamu menghantar pulang tamu sampai ke pintu rumahmu. (HR. Al Baihaqi)
Rasulullah saw. menerima pemberian hadiah dan mendoakan ganjaran atas pemberian hadiah tersebut. (HR. Al-Bukhari)
Jangan menolak hadiah dan jangan memukul kaum muslimin. (HR. Ahmad)
Hendaklah kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian. (HR. Attirmidzi dan Ahmad)
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamu. Kewajiban menjamu tamu hanya satu hari satu malam. Masa bertamu adalah tiga hari dan sesudah tiu termasuk sedekah. Tidak halal bagi si tamu tinggal lebih lama sehingga menyulitkan tuan rumah. (HR. Al Baihaqi)
Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan. (HR. Muslim)
Wahai segenap manusia, sesungguhnya Rabbmu satu dan bapakmu satu. Tidak ada kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi seorang yang bukan Arab atas orang Arab dan yang berkulit merah atas yang berkulit hitam dan yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaannya. Apakah aku sudah menyampaikan hal ini? (HR. Ahmad)
Tidak akan masuk surga orang yang suka mencuri berita (suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain). (HR. Al Bukhari)
Kawan pendamping yang shaleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya. (HR. Al Bukhari)
Langganan:
Postingan (Atom)
